PETAPOLITIK.ID – Konservatisme agama di media sosial menjadi fenomena yang semakin menonjol dalam ruang digital Indonesia. Perdebatan antarwarganet mengenai isu agama kini bukan lagi hal yang asing. Bahkan, tidak sedikit diskusi yang berujung pada ujaran kebencian dan polarisasi di berbagai platform media sosial, khususnya Twitter atau yang kini dikenal sebagai X.
Fenomena tersebut mendorong para peneliti dari PPIM UIN Jakarta melakukan penelitian untuk mengidentifikasi model keagamaan yang berkembang di media sosial. Melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif, penelitian ini mencoba memetakan kecenderungan narasi keagamaan yang paling dominan sekaligus memahami bagaimana penyebarannya di ruang digital.
Penelitian mengenai konservatisme agama di media sosial ini melibatkan analisis terhadap sekitar 1,9 juta cuitan yang kemudian disaring menjadi sekitar 500 ribu tweet dari lebih dari 100 ribu akun dengan total 7,4 juta pengikut. Selain itu, tim peneliti juga mewawancarai sedikitnya 15 akun yang memiliki pengaruh cukup besar di Twitter.
Konservatisme Mendominasi Percakapan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa paham keagamaan konservatif menjadi narasi yang paling dominan di media sosial Indonesia. Bahkan sekitar 4,5 persen dari keseluruhan percakapan berasal dari kelompok yang mempromosikan Islam sebagai sistem politik yang bertujuan membangun negara Islam.
Sementara itu, narasi keagamaan lain seperti moderatisme dan liberalisme tetap ditemukan, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan konservatisme.
Dalam penelitian tersebut, konservatisme dipahami sebagai cara pandang keagamaan yang menafsirkan ajaran Islam secara literal. Kelompok ini meyakini bahwa praktik Islam pada masa awal merupakan acuan utama yang harus diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan.
Sebaliknya, liberalisme dipahami sebagai aliran yang berupaya melampaui batas-batas tradisi, norma, dan nilai yang selama ini disepakati oleh komunitas Muslim. Adapun moderatisme lebih menekankan keseimbangan antara akal dan wahyu, sekaligus menghargai keberagaman sebagai fondasi kehidupan beragama yang harmonis.
Narasi Konservatif Lebih Mudah Viral
Penelitian PPIM UIN Jakarta juga menemukan bahwa akun-akun yang menyebarkan narasi konservatif cenderung lebih mudah menjadi viral dibandingkan narasi lainnya. Kondisi tersebut membuat pesan-pesan konservatif lebih cepat menyebar dan memperoleh perhatian publik.
Menariknya, akun yang viral tidak selalu berasal dari tokoh agama atau figur publik yang memiliki latar belakang pendidikan keagamaan. Namun karena memiliki tingkat interaksi yang tinggi, mereka dianggap memiliki otoritas oleh para pengikutnya sehingga mampu memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap isu-isu keagamaan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa algoritma media sosial berpotensi memperbesar penyebaran narasi tertentu, terutama yang memancing respons emosional dan perdebatan.
Isu Agama Meningkat Saat Musim Politik
Penelitian tersebut juga mengungkap bahwa percakapan mengenai agama mengalami lonjakan signifikan ketika memasuki musim politik, seperti menjelang pemilu atau kontestasi politik lainnya.
Pada periode tersebut, kelompok Islam politik juga terlihat lebih aktif menyuarakan berbagai narasi keagamaan. Hal ini memperlihatkan adanya keterkaitan antara dinamika politik dengan meningkatnya intensitas pembahasan isu agama di media sosial.
Selain itu, penelitian menemukan bahwa perempuan merupakan kelompok pengguna media sosial yang paling aktif membahas isu-isu keagamaan, baik dari kalangan konservatif, moderat, maupun liberal.
Meski demikian, narasi mengenai perempuan sendiri masih lebih banyak didominasi oleh perspektif konservatif.