politik

Purbaya Yudi Sadewa Optimistis Ekonomi Indonesia 2026 Tembus 6 Persen, Ini Strategi Pemerintah

Selasa, 7 Juli 2026 | 16:00 WIB
Purbaya Yudi Sadewa memaparkan strategi kebijakan ekonomi 2026 dengan fokus pada investasi, penguatan sektor swasta, manufaktur, serta sinergi fiskal dan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 6 persen.

PETAPOLITIK.ID – Arah kebijakan ekonomi 2026 menjadi fokus utama pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional menuju target yang lebih tinggi. Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudi Sadewa, optimistis Indonesia mampu mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen pada 2026 melalui penguatan sektor swasta, kebijakan fiskal dan moneter yang selaras, serta perbaikan iklim investasi.

Dalam forum Economic Outlook 2026, Purbaya menjelaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen yang tercantum dalam asumsi makro APBN masih perlu ditingkatkan secara bertahap agar Indonesia mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Menurutnya, pertumbuhan ekonomi minimal 6,7 persen diperlukan agar mampu menyerap tenaga kerja baru secara optimal.

Purbaya menilai pemerintah saat ini berupaya menghidupkan kembali seluruh mesin pertumbuhan ekonomi, baik dari sektor pemerintah maupun sektor swasta. Program-program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, hingga berbagai stimulus fiskal diharapkan mampu meningkatkan aktivitas ekonomi sekaligus menjaga pemerataan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga: Purbaya Yudi Sadewa Optimistis Ekonomi Indonesia 2026 Tembus 6 Persen, Ini Strategi Pemerintah

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah menggelontorkan dana ratusan triliun rupiah ke sistem perbankan guna meningkatkan likuiditas. Harapannya, dana tersebut dapat disalurkan menjadi kredit produktif sehingga sektor swasta lebih agresif melakukan investasi dan ekspansi usaha.

Menurutnya, dampak kebijakan tersebut memang tidak langsung terlihat karena umumnya membutuhkan waktu tiga hingga empat bulan sebelum benar-benar dirasakan dunia usaha.

Purbaya menegaskan bahwa masyarakat sebenarnya tidak terlalu mempersoalkan angka-angka makro ekonomi seperti inflasi, nilai tukar rupiah, maupun harga minyak dunia. Yang lebih penting adalah kemudahan memperoleh pekerjaan, daya beli yang tetap terjaga, serta harga kebutuhan pokok yang relatif stabil.

Baca Juga: Dugaan Penggembosan Demo Mahasiswa dan MBG Menguat, Gerindra Disebut Kerahkan Aksi Tandingan

Inflasi sekitar 2,5 persen dinilai cukup ideal karena menjaga kenaikan harga pangan tetap terkendali sehingga masyarakat masih mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pemerintah juga menempatkan sektor manufaktur sebagai salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi. Selain manufaktur, sektor energi dan pertanian tetap menjadi prioritas karena memiliki kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Untuk mempercepat investasi, pemerintah menyiapkan mekanisme penyelesaian hambatan investasi melalui satuan tugas khusus. Pelaku usaha nantinya dapat melaporkan berbagai kendala yang dihadapi sehingga penyelesaiannya dapat dilakukan lebih cepat melalui koordinasi lintas kementerian.

Baca Juga: Konservatisme Agama di Media Sosial Dominasi Percakapan, Penelitian UIN Jakarta Ungkap Faktanya

Purbaya menilai perbaikan iklim investasi menjadi tantangan terbesar selain sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter serta ketidakpastian ekonomi global.

Dalam kesempatan tersebut, Purbaya juga menyampaikan optimisme terhadap prospek pasar modal Indonesia. Menurutnya, selama fondasi ekonomi nasional tetap terjaga, pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih memiliki ruang yang besar dalam beberapa tahun ke depan.

Halaman:

Tags

Terkini