Politik Itu Kotor? Sejarah Membuktikan Kekuasaan Bisa Mengubah Peradaban dan Menghancurkannya

photo author
Cecilia Dzakira Pasha, PetaPolitik.id
- Selasa, 7 Juli 2026 | 14:40 WIB
Politik adalah bagian dari hidup. Simak sejarah, skandal kekuasaan, dan alasan politik dianggap kotor serta dampaknya bagi masyarakat.
Politik adalah bagian dari hidup. Simak sejarah, skandal kekuasaan, dan alasan politik dianggap kotor serta dampaknya bagi masyarakat.

PETAPOLITIK.ID Politik kerap dipandang sebagai sesuatu yang identik dengan korupsi, perebutan kekuasaan, dan berbagai skandal yang merugikan masyarakat. Tidak sedikit orang memilih bersikap apatis karena menganggap politik hanyalah urusan para elite. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat dipengaruhi oleh keputusan politik.

Pandangan negatif terhadap politik muncul bukan tanpa alasan. Berbagai kasus korupsi, penyalahgunaan jabatan, hingga perebutan kekuasaan terus menghiasi pemberitaan. Namun, benarkah politik itu sendiri yang kotor, atau justru orang-orang yang menjalankan kekuasaan tersebut?

Sejak manusia hidup dalam kelompok kecil pada zaman prasejarah, praktik politik sebenarnya sudah berlangsung. Saat itu belum ada negara, pemerintahan, maupun konstitusi. Namun manusia telah membuat aturan sederhana mengenai pembagian tugas, pengelolaan makanan, hingga penentuan pemimpin kelompok.

Baca Juga: Sejarah Partai Politik di Indonesia: Dari Masa Kolonial hingga Reformasi, Ini Perjalanan Panjangnya

Politik lahir sebagai cara manusia mengatur kehidupan bersama agar kelompok dapat bertahan hidup. Seiring berkembangnya peradaban, sistem tersebut berubah menjadi kerajaan, negara, hingga pemerintahan modern yang memiliki struktur dan aturan yang lebih kompleks.

Karena itulah, politik sejatinya bukan sekadar soal pemilu atau perebutan jabatan. Politik merupakan mekanisme untuk mengatur kehidupan masyarakat agar berjalan tertib.

Dalam sejarah dunia, banyak peristiwa membuktikan bahwa kekuasaan dapat berubah menjadi alat penindasan ketika dijalankan oleh pemimpin yang haus kekuasaan.

Baca Juga: Mengapa Partai Politik Penting di Indonesia? Ini Peran dan Fungsinya dalam Negara Demokrasi

Salah satu contoh paling terkenal adalah Skandal Watergate di Amerika Serikat pada 1972. Saat itu lima orang tertangkap menyusup ke markas Partai Demokrat untuk memasang alat penyadap. Investigasi yang dilakukan dua wartawan Washington Post akhirnya mengungkap keterlibatan Presiden Richard Nixon.

Tekanan publik membuat Nixon memilih mengundurkan diri sebelum dimakzulkan. Hingga kini, ia menjadi satu-satunya Presiden Amerika Serikat yang mengundurkan diri dari jabatannya.

Sejarah juga mencatat peristiwa Night of the Long Knives pada 1934 ketika Adolf Hitler memerintahkan pembunuhan terhadap ratusan tokoh yang dianggap mengancam kekuasaannya. Pembersihan politik tersebut menjadi salah satu fondasi lahirnya rezim diktator Nazi Jerman.

Baca Juga: Heboh! Politik Identitas Kembali Panas, Jejak Ahok hingga Aksi Ormas Picu Perdebatan Nasional

Di Afrika Selatan, politik bahkan digunakan untuk melegalkan diskriminasi ras melalui sistem Apartheid. Kebijakan tersebut memisahkan hak warga berdasarkan warna kulit dan menjadikan mayoritas penduduk kulit hitam sebagai warga kelas dua di tanah kelahirannya sendiri.

Sementara di Uni Soviet, Joseph Stalin menjalankan The Great Purge, yaitu pembersihan besar-besaran terhadap lawan politik, pejabat, militer, hingga masyarakat sipil. Kebijakan itu menyebabkan ratusan ribu hingga lebih dari satu juta orang kehilangan nyawa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Cecilia Dzakira Pasha

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler