Pemerintah sendiri telah menggelontorkan paket stimulus ekonomi sebesar Rp26,34 triliun. Anggaran tersebut terdiri atas bantuan pangan, insentif transportasi, serta program magang dan vokasi.
Bantuan pangan menjadi porsi terbesar melalui penyaluran beras 10 kilogram kepada lebih dari 33 juta penerima manfaat. Pemerintah berharap kebijakan tersebut mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi domestik.
Meski mendukung kebijakan tersebut, Zikri menilai stimulus hanya berfungsi sebagai bantalan jangka pendek. Menurutnya, solusi utama tetap terletak pada penciptaan lapangan kerja berkualitas, peningkatan produktivitas tenaga kerja, dan kenaikan upah riil masyarakat.
Ia juga menyarankan agar insentif fiskal diberikan secara lebih terarah, misalnya kepada perusahaan yang mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak, meningkatkan kualitas pekerja, serta memberikan pelatihan dan kenaikan upah.
Reformasi Struktural Dinilai Lebih Mendesak
Selain bantuan sosial, reformasi struktural dinilai menjadi langkah penting untuk mengatasi persoalan kemiskinan dalam jangka panjang. Pemerintah didorong memperluas akses pembiayaan bagi UMKM, petani, dan nelayan agar mampu meningkatkan produktivitas.
Di sisi lain, pendidikan vokasi juga perlu diselaraskan dengan kebutuhan dunia industri sehingga lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Zikri menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi akan lebih bermakna apabila mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas, bukan hanya tercermin dalam angka statistik. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak lagi menjadi sekadar indikator makro, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dari berbagai lapisan.