Kilas Balik Sejarah Politik Indonesia: Dari Politik Etis Ratu Belanda Hingga Misteri Di Balik Nasakom Soekarno!

photo author
Cecilia Dzakira Pasha, PetaPolitik.id
- Kamis, 9 Juli 2026 | 18:20 WIB
Menelusuri jejak sejarah politik Indonesia, dari masa penjajahan hingga lahirnya berbagai sistem pemerintahan yang membentuk bangsa.
Menelusuri jejak sejarah politik Indonesia, dari masa penjajahan hingga lahirnya berbagai sistem pemerintahan yang membentuk bangsa.

PETAPOLITIK.ID - Sebagai negara demokrasi konstitusional, Indonesia telah melewati perjalanan panjang yang dinamis dalam mengelola tata negaranya. Sepanjang perjalanannya, berbagai macam sistem pemerintahan telah dicoba dan diimplementasikan di tanah air. Menengok kembali Sejarah Politik Indonesia bukan sekadar urusan menghafal masa lalu, melainkan memahami bagaimana fondasi bangsa ini terbentuk melalui benturan ideologi, diplomasi, hingga kebijakan kolonial yang kontroversial.

Guna memahami akar dinamika tata negara kita, Sejarah Politik Indonesia dapat dipetakan secara runtut mulai dari era kolonialisme hingga fase krusial di era Orde Lama. Setiap periode membawa corak dan sistem kepemimpinan unik yang dipengaruhi oleh situasi internal maupun tekanan global pada masanya. Catatan kelam penjajahan hingga eksperimen demokrasi Soekarno menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi besar ini.

Berikut adalah ulasan mendalam mengenai fase-fase penting dalam garis waktu Sejarah Politik Indonesia yang mengubah wajah bangsa selamanya.

Baca Juga: Prabowo Resmikan 218 Jembatan, Tegaskan TNI Hadir untuk Rakyat hingga Pelosok Negeri

Perjalanan sistem politik di tanah air tidak bisa dilepaskan dari kebijakan Ratu Belanda Wilhelmina pada tahun 1901 yang dikenal dengan istilah Politik Etis atau politik balas budi. Kebijakan ini merupakan bentuk pengakuan Belanda atas utang budi terhadap masyarakat pribumi. Melalui program irigasi, edukasi, dan emigrasi, kebijakan ini berniat meningkatkan standar hidup penduduk asli. Dampak terbesarnya adalah lahirnya golongan intelektual terpelajar yang kelak memperjuangkan kemeridekaan Indonesia lewat jalur diplomasi.

Namun, roda berputar saat tentara Jepang menduduki Hindia Belanda pada Maret 1942 akibat ambisi menguasai sumber daya minyak. Meski awalnya disambut hangat sebagai pembebas, rakyat pribumi segera terjebak dalam kesengsaraan mendalam akibat krisis pangan, pakaian, obat-obatan, serta kerja paksa yang menyiksa.

Memasuki era kemerdekaan di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, Indonesia menerapkan sistem demokrasi parlementer pada tahun 1950-an. Sayangnya, periode ini ditandai oleh ketidakstabilan politik akibat perbedaan pandangan yang tajam mengenai dasar ideologi negara. Ketatnya persaingan ini memuncak pada Pemilihan Umum pertama Indonesia tahun 1955 yang tercatat berlangsung secara jujur dan adil.

Baca Juga: Perpres 111/2025 Masukkan LGBTQ sebagai Ancaman Nonmiliter, DPR Tampung Aspirasi RUU LGBT

Hasil Pemilu 1955 memunculkan empat partai besar sebagai pemenang: PNI meraih 23% suara, diikuti Masyumi dengan 20,9%, Nahdlatul Ulama (NU) dengan 18,4%, dan PKI mengantongi 16,4% suara. Karena tidak ada satu pun partai yang meraih mayoritas mutlak, kabinet di masa parlementer terpaksa dibentuk melalui koalisi yang rapuh antarlintas ideologi. Tokoh-tokoh besar seperti DN Aidit (PKI), Kyai Haji Idham Khalid (NU), Sudirman (Masyumi), dan Sidik Djojosukarto (PNI) menjadi pilar utama pergerakan partai kala itu.

Sadar bahwa sistem demokrasi liberal menghambat kemajuan bangsa akibat konflik ego ideologis di parlemen, Soekarno mengambil langkah ekstrem. Ia membubarkan parlemen dan memperkenalkan sistem Demokrasi Terpimpin. Di sisi lain, untuk menjaga posisinya dari dominasi militer yang kian menguat, Soekarno merangkul PKI sebagai penyeimbang kekuatan.

Aliansi strategis ini melahirkan sebuah filosofi politik terkenal yang disebut Nasakom. Nasakom merupakan akronim yang mencampurkan tiga pilar ideologi utama masyarakat pada tahun 1950-an, yaitu Nasionalisme, Agama, dan Komunisme. Langkah ini menjadi eksperimen politik terbesar sekaligus penutup babak krusial Orde Lama, meninggalkan pesan penting dari Bung Karno yang selalu relevan: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

 

source youtube Alfons AMG 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Cecilia Dzakira Pasha

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler