PETAPOLITIK.ID - Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memaparkan pandangannya mengenai persatuan Indonesia, reformasi pendidikan, hingga pola pengasuhan anak dalam perbincangan panjang di podcast What Is Up Indonesia. Dalam wawancara tersebut, Anies menekankan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas pendidikan, persatuan nasional, dan kepemimpinan yang inklusif.
Anies Baswedan membuka diskusi dengan menjelaskan bahwa nilai-nilai keluarga menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter anak. Menurutnya, kedekatan emosional melalui kebiasaan sederhana seperti bercerita sebelum tidur, berdialog, dan meluangkan waktu bersama merupakan cara efektif menanamkan nilai kejujuran, rasa hormat, dan tanggung jawab.
Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya selalu menghindari perlakuan istimewa terhadap anak-anaknya meski memiliki posisi publik. Anies bahkan meminta sekolah agar tidak memberikan privilese kepada keluarganya sehingga anak-anaknya tumbuh berdasarkan kemampuan dan karakter mereka sendiri.
Baca Juga: Sejarah Partai Politik di Indonesia: Dari Masa Kolonial hingga Reformasi, Ini Perjalanan Panjangnya
Persatuan Indonesia Lebih Penting daripada Keberagaman
Dalam pembahasan mengenai identitas bangsa, Anies menilai banyak orang keliru ketika menyebut keberagaman sebagai keunikan utama Indonesia.
Menurutnya, banyak negara lain memiliki tingkat keberagaman yang lebih tinggi dibanding Indonesia. Namun yang membuat Indonesia berbeda adalah kemampuannya menjaga persatuan di tengah perbedaan suku, agama, dan budaya.
Ia mengibaratkan Indonesia seperti senyawa kimia. Berbagai identitas daerah tidak sekadar bercampur, tetapi membentuk entitas baru bernama Indonesia. Karena itu, fokus utama bangsa seharusnya bukan hanya merayakan keberagaman, melainkan terus menjaga persatuan.
Baca Juga: Mengapa Partai Politik Penting di Indonesia? Ini Peran dan Fungsinya dalam Negara Demokrasi
Anies juga menilai Bahasa Indonesia menjadi faktor pemersatu paling penting sejak Sumpah Pemuda. Kesepakatan menggunakan satu bahasa sebelum Indonesia merdeka disebutnya sebagai salah satu pencapaian terbesar para pendiri bangsa.
Politik Inklusif Dinilai Menjadi Masa Depan
Saat membahas tulisan akademiknya yang diterbitkan sekitar dua dekade lalu mengenai politik Islam, Anies mengatakan pandangannya masih relevan hingga saat ini.
Ia menjelaskan bahwa politik Islam di Indonesia tidak bersifat homogen, melainkan berada dalam spektrum yang beragam. Dari hasil penelitiannya, Anies sejak lama memprediksi bahwa politik yang bersifat inklusif akan menjadi arus utama di Indonesia.
Baca Juga: Culture War Adalah Apa? Memahami Perang Ideologi Liberal dan Konservatif yang Ramai Dibahas
Menurutnya, masa depan tidak dimiliki kelompok yang eksklusif, melainkan mereka yang mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan identitas tertentu.
Artikel Terkait
Politik Identitas Masih Jadi Ancaman? Guru Besar Unhas Ungkap Cara Cegah Polarisasi di Indonesia
Pancasila dan Agama Bertentangan? Pakar Tegaskan Identitas Politik Beda dengan Politik Identitas
Heboh! Politik Identitas Kembali Panas, Jejak Ahok hingga Aksi Ormas Picu Perdebatan Nasional
Mengapa Partai Politik Penting di Indonesia? Ini Peran dan Fungsinya dalam Negara Demokrasi
Sejarah Partai Politik di Indonesia: Dari Masa Kolonial hingga Reformasi, Ini Perjalanan Panjangnya