Politik Uang Pemilu Indonesia Makin Canggih, Benarkah Demokrasi Terancam oleh Transaksi Politik?

photo author
Bachtiar Tatag P, PetaPolitik.id
- Selasa, 7 Juli 2026 | 18:20 WIB
Praktik politik uang kini tak lagi sekadar serangan fajar atau bagi-bagi sembako. Modusnya terus berkembang, mulai dari transaksi digital hingga berbagai cara yang semakin sulit dideteksi.
Praktik politik uang kini tak lagi sekadar serangan fajar atau bagi-bagi sembako. Modusnya terus berkembang, mulai dari transaksi digital hingga berbagai cara yang semakin sulit dideteksi.

Kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi penyelenggara pemilu karena pola politik uang terus berubah mengikuti perkembangan zaman.

Mahar Politik dan Sewa Tiket Pencalonan

Selain politik uang kepada pemilih, persoalan lain yang menjadi perhatian adalah praktik mahar politik dalam proses pencalonan.

Mahar politik biasanya berkaitan dengan biaya yang harus dikeluarkan kandidat untuk mendapatkan rekomendasi partai politik. Dalam kontestasi pemilihan kepala daerah maupun legislatif, biaya politik yang tinggi sering menjadi persoalan tersendiri.

Fenomena tersebut membuat sebagian calon yang memiliki kemampuan finansial besar lebih mudah mendapatkan kendaraan politik dibandingkan kader yang telah lama berproses di dalam partai.

Baca Juga: Purbaya Yudi Sadewa Optimistis Ekonomi Indonesia 2026 Tembus 6 Persen, Ini Strategi Pemerintah

Akibatnya, muncul kekhawatiran bahwa demokrasi lebih banyak dipengaruhi oleh kekuatan modal dibandingkan kualitas gagasan dan program.

Data Pemilih dan Tantangan Menghapus Politik Uang

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di sejumlah daerah, masih terdapat masyarakat yang bersedia menerima pemberian dari kandidat atau tim sukses.

Dalam sebuah survei, sebagian responden mengaku bersedia menerima uang atau barang yang diberikan saat masa kampanye. Namun, tidak seluruh penerima kemudian memilih kandidat pemberi uang tersebut.

Baca Juga: Kasus Nadiem Makarim Memanas, Dugaan Korupsi Chromebook Disebut White Collar Crime Terbesar di Indonesia

Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mulai memiliki kesadaran politik yang lebih kritis. Mereka dapat menerima pemberian, tetapi tetap mempertimbangkan pilihan berdasarkan faktor lain.

Meski demikian, kondisi tersebut tetap menjadi persoalan karena membuka ruang bagi praktik transaksi politik.

Peran Masyarakat dan Penegakan Hukum

Menghapus politik uang membutuhkan kerja bersama antara penyelenggara pemilu, aparat penegak hukum, peserta pemilu, dan masyarakat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Bachtiar Tatag P

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler