Jokowi Ungkap Era Ekonomi Kecerdasan, Singgung AI hingga Isu Ijazah Palsu dan Agenda Politik

photo author
Bachtiar Tatag P, PetaPolitik.id
- Kamis, 9 Juli 2026 | 12:40 WIB
Jokowi buka suara! Dalam wawancara eksklusif, Presiden ke-7 RI membahas tantangan besar menuju era ekonomi kecerdasan, pentingnya penguasaan AI, literasi digital, hingga regulasi yang mampu mengimbangi pesatnya perkembangan teknologi.
Jokowi buka suara! Dalam wawancara eksklusif, Presiden ke-7 RI membahas tantangan besar menuju era ekonomi kecerdasan, pentingnya penguasaan AI, literasi digital, hingga regulasi yang mampu mengimbangi pesatnya perkembangan teknologi.

PETAPOLITIK.ID – Presiden ketujuh Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) menegaskan Indonesia harus segera bersiap memasuki era ekonomi kecerdasan (intelligent economy) yang diprediksi akan membawa perubahan besar di berbagai sektor kehidupan. Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), robotika, hingga digitalisasi akan menjadi penentu daya saing bangsa dalam lima hingga 15 tahun mendatang.

Dalam wawancara eksklusif di kediamannya di Sumber, Surakarta, Jokowi menjelaskan bahwa era ekonomi kecerdasan merupakan fase lanjutan setelah ekonomi digital. Pada fase ini, data dan informasi tidak hanya dikumpulkan secara digital, tetapi juga diolah oleh AI untuk menghasilkan keputusan yang cepat, akurat, dan berlangsung secara real time.

Selain membahas era ekonomi kecerdasan, Jokowi juga menyinggung kesiapan Indonesia menghadapi revolusi teknologi, pentingnya regulasi AI, keamanan data nasional, hingga menjawab isu ijazah palsu yang kembali ramai diperbincangkan.

Baca Juga: Politik Uang Pemilu Indonesia Makin Canggih, Benarkah Demokrasi Terancam oleh Transaksi Politik?

Jokowi: Indonesia Harus Siap Masuk Era Ekonomi Kecerdasan

Jokowi mengatakan dunia sedang bergerak dari ekonomi digital menuju ekonomi kecerdasan. Menurutnya, seluruh aktivitas masyarakat nantinya akan sangat dipengaruhi oleh teknologi Artificial Intelligence.

Ia menjelaskan bahwa AI akan menjadi pusat pengolahan data yang mampu memberikan rekomendasi maupun keputusan secara otomatis dengan tingkat akurasi tinggi. Karena itu, Indonesia tidak boleh tertinggal dari negara-negara lain yang telah lebih dulu mengembangkan teknologi tersebut.

Mantan Presiden itu menilai Indonesia memiliki modal yang cukup baik. Selama dua dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi nasional mampu bertahan di kisaran lima hingga enam persen dengan stabilitas politik yang dinilai tetap terjaga. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat Indonesia dipandang sebagai salah satu kekuatan baru dari kawasan Global South.

Baca Juga: Partai Politik dan Demokrasi Indonesia, Benarkah Saling Menguatkan atau Justru Jadi Ancaman?

Infrastruktur, SDM, dan Regulasi Jadi Kunci

Jokowi menegaskan terdapat tiga faktor utama agar Indonesia mampu bersaing pada era ekonomi kecerdasan.

Pertama adalah pembangunan infrastruktur fisik dan digital, mulai dari jalan tol, pelabuhan, bandara, pembangkit listrik, pusat data (data center), satelit, hingga jaringan internet yang merata.

Kedua adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan AI, coding, algoritma, machine learning, serta peningkatan literasi digital. Menurutnya, generasi muda harus dibekali keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.

Baca Juga: Sistem Politik Indonesia Terungkap, Begini Cara Input dan Output Membentuk Arah Demokrasi Nasional

Ia optimistis perkembangan AI justru akan membuka banyak profesi baru seperti operator AI, manajemen AI, software engineer, hingga tenaga ahli robotika humanoid. Namun peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila masyarakat memiliki kompetensi digital yang memadai.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Bachtiar Tatag P

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler